KETENTUAN ZAKAT


 KETENTUAN ZAKAT

A Zakat fitrah
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hikmah zakat fithri, sebagaimana tersebut di dalam hadits :

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
 “Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Id), maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Id), maka itu adalah satu shadaqah dari shadaqah-shadaqah“.[2]

Referensi: https://almanhaj.or.id/9272-tuntunan-zakat-fithri-2.html

UKURANNYA
    Ukuran zakat fithrah setiap orang adalah satu sha’ kurma kering, atau anggur kering, atau gandum, atau keju, atau makanan pokok yang menggantikannya, seperti beras, jagung, atau lainnya.

 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ وَكَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

 “Dari Abu Sa’id Radhiyalahu ‘anhu, dia berkata : “Kami dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari fithri mengeluarkan satu sha’ makanan”. Abu Sa’id berkata,”Makanan kami dahulu adalah gandum, anggur kering, keju, dan kurma kering.” [HR Bukhari, no. 1510. Para ulama berbeda pendapat tentang hinthah[16], apakah satu sha’ seperti lainnya, atau setengah sha’? Dan pendapat yang benar adalah yang kedua, yaitu setengah sha’

 قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ثَعْلَبَةَ بْنُ صُعَيْرٍ الْعُذْرِيُّ خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ فَقَالَ أَدُّوا صَاعًا مِنْ بُرٍّ أَوْ قَمْحٍ بَيْنَ اثْنَيْنِ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ وَعَبْدٍ وَصَغِيرٍ وَكَبِيرٍ 

“Abdullah bin Tsa’labah bin Shu’air al ‘Udzri berkata : Dua hari sebelum (‘Idul) fithri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada orang banyak, Beliau bersabda: “Tunaikan satu sha’ burr atau qumh (gandum jenis yang bagus) untuk dua orang, atau satu sha’ kurma kering, atau satu sha’ sya’ir (gandum jenis biasa), atas setiap satu orang merdeka, budak, anak kecil, dan orang tua “[17].
     Ukuran sha’ yang berlaku adalah sha’ penduduk Madinah zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu sha’ adalah empat mud. Satu mud adalah sepenuh dua telapak tangan biasa. Adapun untuk ukuran berat, maka ada perbedaan, karena memang asal sha’ adalah takaran untuk menakar ukuran, lalu dipindahkan kepada timbangan untuk menakar berat dengan perkiraan dan perhitungan.
     Ada beberapa keterangan mengenai masalah ini, sebagai berikut: 1. Satu sha’ = 2.157 kg (Shahih Fiqih Sunnah, 2/83). 2. Satu sha’ = 3 kg (Taisirul Fiqh, 74; Taudhihul Ahkam, 3/74). 3. Satu sha’ = 2, 040 kg gandum yang bagus. (Syarhul Mumti’, 6/176). Syaikh al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,”Para ulama telah mencoba dengan gandum yang bagus. Mereka telah melakukan penelitian secara sempurna. Dan aku telah menelitinya, satu sha’ mencapai 2 kg 40 gr (2,040 kg) gandum yang bagus. Telah dimaklumi bahwa benda-benda itu berbeda-beda ringan dan beratnya. Jika benda itu berat, kita berhati-hati dan menambah timbangannya. Jika benda itu ringan, maka kita (boleh) menyedikitkan”. [Syarhul Mumti’, 6/176-177]. 
    Dari penjelasan ini, maka keterangan Syaikh al ’Utsaimin ini selayaknya dijadikan acuan. Karena makanan pokok di negara kita -umumnya- adalah padi, maka kita mengeluarkan zakat fithri dengan beras sebanyak 2 ½ kg, wallahu a’lam

Referensi: https://almanhaj.or.id/9272-tuntunan-zakat-fithri-2.html
CATATAN:
Beras yang dikeluarkan untuk zakat fitrah ada beberapa pendapat tentang ukuran antara 2,5 kilogram beras dan 2,7 kilogram beras. Maka untuk mengantisipasi penyusutan berat beras maka beberapa pihak mengambil langkah aman dengan melaksanakan zakat berupa beras dengan ukuran 3 kilogram. wallahu a'alam bishowab.

B.Zakat Mal
    Salah satu rukun Islam yang harus diamalkan seorang muslim, ialah menunaikan zakat. Keyakinan ini didasari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran dan Sunnah. Bahkan hal ini sudah menjadi konsensus (ijma’) yang tidak boleh dilanggar. 
Adapun dalil dari Al Qur’an, diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : 

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا 

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. [At Taubah/9 :103].

Dan firmanNya:
 وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ

 “Dan tegakkanlah shalat dan tunaikanlah zakat“. [Al Baqarah/2:110]

SYARAT-SYARAT NISHAB 
Adapun syarat-syarat nishab ialah sebagai berikut: 
1. Harta tersebut diluar kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seseorang, seperti: makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian. 
2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab [9] dengan dalil hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

 لاَ زَكَاةَ فِيْ مَالٍ حَتَّى يَحُوْلَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ

 “Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun)” [10].
Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun, yang diambil ketika menemukannya. Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan berzakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut [11].

NISHAB, UKURAN DAN CARA MENGELUARKAN ZAKATNYA. 
1. Nishab Emas Dan Ukuran Zakatnya. Adapun nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud ialah dinar Islam. Ukuran satu dinar setara dengan 4,25 gram emas. Jadi 20 dinar itu setara dengan 85 gram emas murni. Demikian ini yang telah ditetapkan oleh Syaikh Muhammad Al Utsaimin [12] dan Yusuf Qardhawi [13]. Dalil nishab ini ialah hadits Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 وَلَيْسَ عَلَيْكَ شَيْءٌ يَعْنِي فِي الذَّهَبِ حَتَّى يَكُونَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا فَإِذَا كَانَ لَكَ عِشْرُونَ دِينَارًا وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ وَلَيْسَ فِي مَالٍ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ

 “Tidak ada kewajiban atas kamu sesuatupun – yaitu dalam emas- sampai memiliki 20 dinar. Jika telah memiliki 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya (zakat) 1/2 dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada di harta zakat, kecuali setelah satu haul” [14].

Kemudian dari nishab tersebut diambil 2,5 % atau 1/40. Dan kalau lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab yang awal. Demikian menurut pendapat yang rajih (kuat). Misalnya : seseorang memiliki 87 gram emas yang disimpan maka jika telah sampai haulnya maka wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya 87/40 = 2,175 gram atau uang seharga tersebut.

2. Nishab Perak Dan Ukuran Zakatnya. Adapun nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gram, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.

3. Nishab Binatang Ternak Dan Ukuran Zakatnya. Adapun syarat wajib zakat pada binatang ternak sama dengan di atas dan ditambah satu syarat, yaitu binatangnya digembalakan dipadang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.

 وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ

 “Dan dalam zakat kambing yang digembalakan diluar; kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor …” [15]

Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya ialah sebagai berikut: 

    1. ONTA. 
Nishab onta ialah 5 ekor. Perhitungan selengkapnya sebagai berikut: 
KADAR WAJIB ZAKAT ONTA
 5 – 9 ekor : 1 ekor kambing 
10 – 14 ekor : 2 ekor kambing
15 – 19 ekor : 3 ekor kambing 
20 – 24 ekor : 4 ekor kambing 
25 – 35 ekor : 1 ekor bintu makhad 
36 – 45 ekor : 1 ekor bintu labun 
46 – 60 ekor : 1 ekor hiqqah 
61 – 75 ekor : 1 ekor jadzah 
76 – 90 ekor : 2 ekor bintu labun 
91 – 120 ekor : 2 ekor hiqqah 
121 ekor : 3 ekor bintu labun 
130 ekor : 1 ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun 
140 ekor : 2 ekor hiqqah dan dua ekor bintu labun 
150 ekor : 3 ekor hiqqah 160 ekor : 4 ekor bintu labun 
170 ekor : 1 ekor hiqqah dan 3 ekor bintu labun 
180 ekor : 2 ekor hiqqah dan 2 ekor bintu labun 
BACA....
Keterangan : 
1. Bintu makhad ialah onta yang telah berusia satu tahun. 
2. Bintu labun ialah onta yang berusia dua tahun. 
3. Hiqqah ialah onta yang telah berusia tiga tahun.
4. Jadzah ialah onta yang berusia empat tahun. 

    2. SAPI. 
Nishab sapi ialah 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya. 
Cara penghitungan sebagai berikut.
KADAR WAJIB ZAKAT SAPI 
30 – 39 ekor : 1 ekor tabi’ atau tabi’ah 
40 – 59 ekor : 1 ekor musinah 
60 ekor : 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah 
70 ekor : 1 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah 
80 ekor : 2 ekor musinnah
90 ekor : 3 ekor tabi’ 
100 ekor : 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah. 
BACA...!
Keterangan 
1. Tabi’ dan tabi’ah ialah sapi jantan dan betina yang berusia setahun.
2. Musinnah ialah sapi betina yang berusia dua tahun. 
3. Setiap 30 ekor sapi zakatnya ialah satu ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya ialah satu ekor musinnah. 

    3. KAMBING
Nishab kambing ialah 40 ekor. 
Perhitungannya sebagai berikut: 
KADAR WAJIB ZAKAT KAMBING 
40 -120 ekor  : 1 ekor kambing 
121- 200 ekor : 2 ekor kambing. 
201 – 300 ekor  : 3 ekor kambing. 
Lebih dari 300 ekor : setiap kelipatan 100, 1 ekor kambing. 


Referensi: https://almanhaj.or.id/2805-syarat-wajib-dan-cara-mengeluarkan-zakat.html

    4.ZAKAT PERTANIAN
Zakat pertanian terbagi menjadi dua macam:
1, Pertanian dengan tadah hujan zakatnya 10%
2. Pertanian dengan pengairan zakatnya 5 %
    Sedangkan nisab atau ukuran yang wajib dizakati jika telah mencapai :
Nisab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 750 kg. 
Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma, dll, maka nishabnya adalah 750 kg dari hasil pertanian tersebut. 
Pendapat lain menyatakan 815 kg untuk beras dan 1481 kg untuk yang masih dalam bentuk gabah.

CONTOH SOAL MENGHITUNG ZAKAT

Ahmad memiliki harta sebagaimana berikut:
1. Emas seberat 1 kg
2. 100 ekor kambing
3. 30 ekor sapi
4. Beras 2 ton dari sawah tadah hujan
Berapa Zakat yang wajib dikeluarkan ? 
Bila harga emas 1 gram Rp, 500.000
Harga 1 ekor kambing Rp, 3.000.000
Harga 1 ekor sapi Rp, 30.000.000
Harga 1 kg beras Rp, 10.000
_______________________
JAWABANNYA :
- EMAS 1 KG       = 100 gram X 500.000 = 50.000.000 X 2,5% = 1.250.000
- 1 KAMBING     = 3.000.000 ( zakatnya seekor )
- 1 SAPI                = 30.000.000 ( zakatnya seekor )
- BERAS 2 ton      = 2000 kg X 10.000 =20.000.000 X10%= 2.000.000
JUMLAH ZAKATNYA 
  1.250.000
  3.000.000
30.000.000
  2.000.000 +
36.250.000
( perhatikan nishab dan kadar zakatnya )

Komentar

Posting Komentar